Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Yang Terlupa Dari Skandal Facebook

6 min read

Bismillahirrahmanirrahim  

Selamat datang di kirim.email, bersama saya Fikry Fatullah.

Kali ini kita akan membahas mengenai hal yang belakangan ini sedang heboh, yaitu terkait kasus Facebook dimana terjadi pencurian data oleh sebuah perusahaan konsultan politik (promoter politik/political marketing) yang bernama Cambridge Analytica.

Kasus ini menggegerkan banyak orang karena diperkirakan mencuri 87 juta data pengguna Facebook di Amerika. Awalnya, diperkirakan hanya 50 juta data, namun seiring berjalannya waktu terungkap data yang berbeda yang menyatakan adanya 87 juta data yang tercuri. Kasus ini pertama kali dibongkar oleh seorang staf di Cambridge Analytica, yaitu Christopher Wylie. Namun, saya tidak akan membahas dari sisi politiknya. 

Jadi, saya akan membahas tentang satu hal yang jarang sekali dibahas oleh media. Sebagian besar media lebih terfokus mengulas tentang pencurian datanya, whistleblower (pelapornya), bahkan cenderung menyalahkan atau menyudutkan whistleblower tersebut. 

Jika Anda perhatikan berbagai wawancara yang dilakukan bersama Christopher Wylie, mayoritas media lebih menanyakan secara personal dan menyalahkannya. Jadi, banyak pertanyaan yang bersifat direct, seperti,

“Apa yang Anda gunakan dengan data tersebut?”

Nah, itu pertanyaannya langsung tertuju ke si pelapor ini. Padahal, dia sendiri tidak nyaman ketika menjawabnya karena dia juga tidak mengetahui tentang hal itu.

Dia cenderung ditanya dan disalahkan, seolah-olah semua orang yang bertanya (terlihat dari semua video yang saya tonton) mengajukan pertanyaan direct kepadanya. Di salah satu wawancara, akhirnya dia mengatakan,

“Kenapa semua orang bertanya kepada saya? Sedangkan saya disini adalah orang yang membongkar berita ini, kenapa tidak langsung bertanya kepada Cambridge Analytica atau ke Facebook?”

Benar saja, pernyataan tersebutlah yang mengganggu pikiran saya sampai sekarang. Akhirnya, Facebook melakukan testimoni atau pernyataan ke Senat Amerika, tentang abuse atau pencurian data ini. 

Sebenarnya, saya sedikit heran. Memang benar jika kejadian ini juga menjadi tanggung jawabnya Mark. 

Jika Anda sudah menonton testimoni tersebut, terlihat bahwa Mark merespon Senat dengan sangat powerful, dia mengatakan,

“Saya yang membuat Facebook, dan kami kurang banyak mengevaluasi datanya, sehingga itu menjadi kesalahan saya. Karena itu, saya meminta maaf.

Itu adalah kalimat Mark Zuckerberg, dan dia banyak menggunakan kata “saya”. 

Akhirnya, ketika saya membaca di Bloomberg beberapa jam setelah testimoni tersebut berlangsung, Mark mendapatkan respon yang sangat positif dari penegak hukum dan masyarakat, karena dia menyatakan permintaan maaf dan akan bertanggung jawab. 

Sangat gentle, menurut saya. 

Padahal, kalau kita bongkar lebih dalam, ini bukan sepenuhnya salah Facebook. Memang benar Facebook salah, tapi kalau boleh bilang ini juga salahnya user, pihak ketiga, Cambridge Analytica, dan pihak-pihak terkait.

Karena tahun 2015, Cambridge Analytica membeli data dari sebuah pengembang aplikasi di Facebook yang kemudian tertangkap basah, dan Facebook langsung mem-banned aplikasi tersebut dan memerintahkan mereka untuk menghapus datanya.

Namun kini kita tahu, bahwa ternyata pihak Cambridge Analytica tidak menghapus data tersebut dan bahkan memanfaatkannya. Jadi, ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan Mark. 

Terlebih, kita sebagai pengguna Facebook, kalau kita tidak mengikuti kuis yang diberikan oleh Cambridge (karena Cambridge ini “mencuri data” dengan menggunakan kuis), maka mereka sebenarnya tidak akan mendapatkan datanya. Sesimpel itu. 

Dampak Kasus

Tetapi saya lihat, dari sebagian besar berita yang saya baca, mungkin 9 dari 10 itu banyak yang membahas Cambridge Analytica, menyalahkan whistleblower-nya, dan juga Facebook, bahkan Mark Zuckerberg.

Saya tidak membela Mark disini, bukan itu yang saya maksudkan. Tetapi, menyalahkan 100% kepada Mark dan juga Facebook, bagi saya juga tidak bijak.

Meskipun bukan itu intinya dalam episode ini, tetapi saya harus menyatakan itu karena saya tidak setuju kalau hanya menyalahkan Facebook. Sebab, itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat menambah masalah.

Karena, ada lebih dari 10 ribu apps yang sekarang terkena dampaknya. 

Banyak sekali yang merasa, kebijakan-kebijakan dan API-nya Facebook telah berubah, dan kirim.email menjadi salah satu perusahaan yang merasakan dampak tersebut. Mulai dari token, API yang menjadi 90 hari dari yang tadinya unlimited, kemudian keterbatasan pengambilan data, harus diintegrasi ulang, dan lan-lain.

Jadi, kita yang tidak mencuri data pun terkena dampaknya. Inilah kenapa saya memutuskan untuk mengulas hal ini, karena saya pun merasakan dampaknya juga ke perusahaan saya. 

Hal yang Terlupa Dari Kasus Facebook

Namun, yang akan kita bahas adalah perihal yang jarang dibahas atau bahkan sepertinya dilupakan oleh banyak media, yaitu bagaimana data-data ini dimanfaatkan untuk mengubah pendirian orang dan memilih Donald Trump? Atau, bagaimana menggunakan data-data ini untuk mempengaruhi orang lain agar melakukan apa yang Cambridge Analytica inginkan?

Ini hal yang berbeda. Pencurian data itu satu hal, dan memanfaatkan data yang dicuri adalah hal lain. 

Saya cenderung mengambil sisi positif dari suatu kejadian, yaitu segala sesuatu akan menjadi yang terbaik, jika kita bisa mengambil yang terbaik dari segala sesuatu, itulah yang saya pelajari.

Perlu diketahui, bahwa tidak hanya Facebook, bahkan Pinterest dan Apple melakukan update security dan update privacy, kemudian mengumumkan ke penggunanya. 

Nah, sekarang kita akan membahas yang jarang sekali dibahas karena mungkin tidak begitu penting bagi mereka, terlebih orang-orang sudah merasa ‘kecolongan’ dan haknya diambil, jadi responnya adalah kemarahan.

Bahkan ada hashtag #deletefacebook dimana-mana, hingga founder WhatsApp dimana aplikasi ini telah diakuisisi oleh Facebook, turut menyerukan boikot Facebook. 

Elon Musk juga menghapus halaman SpaceX di Facebook, Padahal, saya pribadi adalah pengikut SpaceX di Facebook, karena saya sering menonton video mereka ketika launching, yaitu roket yang bagi saya itu merupakan projek yang ambisius dan saya senang bahkan selalu mengikutinya di live Facebook.

Kini saatnya, mari kita membahas apa yang dilakukan Cambridge Analytica tentang data ini dan apa yang bisa kita pelajari? 

Di episode ini saya melarang Anda untuk mencuri data, namun saya mengajak Anda untuk memanfaatkan data yang kita punya. Saat ini kita memiliki banyak sekali data, ada yang namanya touch point atau titik sentuh orang dengan bisnis kita yang efek samping atau outputnya adalah data.  

Misalnya, dia menyukai (like) facebook page kita, itu artinya dia memberikan kita sebuah data, paling tidak data yang menunjukkan profil dia siapa. Dia membeli produk kita berkali-kali, itu juga memberikan kita sebuah data, misalnya data preferensi dia terhadap produk kita.

Nah, setelah Anda mendapatkan data tersebut atau mungkin juga Anda bisa mendapatkan data dari Google Analytics, hasil penjualan, interaksi, atau data tidak berhasilnya orang membeli, lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap data tersebut?

Ini jauh lebih penting untuk kita pelajari daripada bagaimana Cambridge mencuri data.

Kita bisa mengubah outputnya, agar orang membeli produk kita atau bagaimana membuat orang melakukan apa yang kita inginkan.

Misalnya, kita ingin orang datang ke sebuah event yang kita buat, seperti pameran, maka,

  • Bagaimana caranya? 
  • Apa iklan yang harus mereka lihat? 
  • Apa video yang harus mereka dengar? 
  • Apa hal yang harus mereka rasakan dari tulisan atau konten kita supaya mereka ingin hadir ke event kita?

OCEAN Personality Test 

Jadi, Cambridge Analytica melalui CEO-nya Alexander Nix yang kini sudah suspend, pernah mengatakan tentang OCEAN Personality Test dalam sebuah event. Alexander Nix membicarakan tentang bagaimana mereka bisa me-model personality atau kepribadian setiap orang dewasa di Amerika dengan mengumpulkan sampel dari puluhan atau ratusan ribu data ini.

 “Setiap orang dewasa”, ini sebuah statement yang berlebihan menurut saya, tapi tidak apa-apa kita terima dulu, dan kita pelajari bagaimana caranya.

Alexander Nix mengatakan bahwa dari data ini, dia bisa membuat behavioral communication, yaitu komunikasi berbasis perilaku. Nanti kita akan membahas ada 5 tipe atau jenisnya.

Jadi pelajaran pertama adalah kumpulkan data, atau mungkin Anda sudah memilikinya. Coba lihat data-data Anda, misalnya dari Google Analytics.

Coba dengar apa kata pelanggan Anda tentang produk Anda, keluhan-keluhan mereka, dan rasakan rasa sakit mereka. Karena ini semua adalah data, dan akan menjadi input yang bisa Anda olah lalu Anda gunakan. 

Cambridge Analytica berhasil menggunakan data dengan baik, sampai mereka bisa membuat behavioral communication. Mereka bisa mendesain komunikasi mereka untuk satu segmen orang tertentu dan lainnya.

OCEAN Personality Test terdiri dari:

  • Openness

O yang merupakan Openness (Keterbukaan) adalah seberapa terbuka seseorang dengan pengalaman-pengalaman baru. 

  • Conscientiousness

C adalah Conscientiousness yaitu bagaimana seseorang menyikapi keteraturan rencana, bagaimana mereka merencanakan hidup mereka, dan bagaimana kenyamanan mereka dengan keteraturan atau terorganisir.

  • Extraversion

Ketiga adalah extraversion atau seberapa sosial seseorang, seberapa banyak Anda menghabiskan waktu dengan orang lain.

  • Agreeableness

A adalah Agreeableness yaitu bagaimana seseorang mendahulukan orang lain sebelum mendahulukan dirinya sendiri. 

  • Neuroticism

Terakhir adalah Neuroticism, apakah seseorang itu woory atau khawatir dalam jumlah yang tidak wajar (kekhawatiran yang banyak).

Hal yang Dilakukan Cambridge Analytica 

Dilansir dari BBC, sebegitu berhasilnya algoritma dari Cambridge Analytica ini, mereka dapat me-klaim bahwa dari 10 like yang Anda lakukan bisa lebih akurat dari teman kantor. Mereka bisa tahu Anda lebih akurat dari teman Anda, 150 like apapun yang Anda like, mereka bisa menebak Anda jauh lebih akurat dari orang tua Anda, dan lebih dari 300 like, mereka bisa menebak Anda lebih akurat dari pasangan.

Jadi, itu adalah bagaimana Alexander Nix mengatakan atau memprediksi kepribadian.

Selanjutnya, apa yang dia lakukan dengan informasi tersebut? Berdasarkan persentasenya, satu orang dewasa di Amerika ada 4000 sampai 5000 data point atau titik sentuh data seperti yang sebelumnya saya sampaikan.

Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Hal yang dilakukan oleh Cambridge Analytica adalah mereka kemudian menyesuaikan pesan apa yang mau disampaikan ke 5 tipe tersebut dari OCEAN Personality Test.

Anda juga bisa mengikuti tesnya disini.

 Ini sama seperti memilih angle atau sudut pandang dalam sebuah ads campaign.

Kita ambil contoh, Donald Trump menyetujui kepemilikan senjata api. Maka dalam campaign-nya, Trump mengatakan dia akan menyetujui kepemilikan senjata bagi seluruh rakyat Amerika. 

Jadi, sekarang kalau Anda ingin membeli senjata di Netherland Anda akan membutuhkan waktu satu tahun untuk mengurus izinnya, tetapi di Amerika Anda bisa mendapatkannya hanya dalam waktu satu setengah jam.

Bagaimana mengubah angle dalam penawaran tersebut? Inilah pelajaran yang bisa kita ambil. Mereka bisa mengubah opini seseorang dalam melakukan apa yang mereka inginkan, berdasarkan data-data yang mereka miliki.

Contoh lainnya untuk orang termasuk Neuroticism dan banyak khawatir, maka angle iklannya berbasis fear atau rasa takut.  Jadi, saya belum pernah lihat iklannya, namun saya baca sampel-sampelnya dari presentasi Alexander Nix langsung, misalnya,

“Bayangkan kalau rumah Anda sering kedatangan maling, maka asuransi terbaik Anda adalah senjata api.”

Rasa takut diangkat, lalu diberikan solusinya berupa senjata api.

Lalu bagaimana untuk orang dengan tipe extraversion-nya kuat? Maka, angle yang diangkat adalah orang lain. Contohnya,

“Bayangkan orang yang Anda sayangi, keluarga Anda, itu diancam oleh orang lain dan Anda tidak bisa melindunginya. Apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda memiliki senjata api, Anda bisa menembaknya dan melindungi mereka.”

Kemudian untuk orang-orang dengan tipe Openness atau terbuka, maka anglenya adalah menawarkan pengalaman baru menggunakan senjata api. Misalnya,

“Anda belum pernah menggunakan senjata api? Maka ini waktunya Anda memiliki senjata baru, untuk melindungi rumah Anda dengan cara yang baru.”

Itu adalah beberapa contoh. 

Keyword Setiap Tipe OCEAN Personality Test

Jadi, setiap point dari OCEAN Personality Test selalu ada keyword-nya, misalnya orang yang kuat di Openness, maka keyword yang digunakan adalah imagination (imajinasi). Angle yang didatangkan adalah yang bersifat imajinatif dan penuh insight yang membuat mereka tertarik.

Orang yang kuat di Conscientiousness maka kata kuncinya adalah organize atau keteraturan. Bagaimana kita bisa membuat sesuatu itu lebih teratur. 

Orang yang termasuk dalam tipe Extraversion kata kuncinya adalah energetic atau banyak energi.

Orang dengan tipe Agreeableness dan mengedepankan orang lain sebelum dirinya sendiri kata kuncinya adalah baik, simpati, dan perhatian.

Orang yang termasuk dalam tipe Neuroticism kata kuncinya adalah ketakutan, keresahan, dan kekhawatiran. 

Bagi saya, yang menjadi pelajaran berharga adalah bagaimana Cambridge Analytica mempengaruhi orang dengan data.

Pentingnya Mempunyai Database Pelanggan

Sekarang kita sedang merasakan dampaknya, ke depan dampaknya akan semakin besar dan mungkin akan berpengaruh ke bisnis kita.

Dampak paling terasa saat kasus ini terjadi adalah sempat beredar kabar bahwa Kominfo berencana untuk memblokir Facebook jika belum ada konfirmasi.

Dampak ini jelas merepotkan untuk bisnis, terutama bisnis online. Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengumpulkan database pelanggan Anda. 

Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *