Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Penghambat Bisnis yang Sedang Bertumbuh

4 min read

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini, saya akan membahas growth atau pertumbuhan bisnis. Ini adalah hal yang saya alami sendiri dan saya juga masih mencari solusinya. Sudah ada beberapa yang ketemu, tetapi sepertinya ini akan terus dialami oleh bisnis yang sedang bertumbuh, jika saya perhatikan dari polanya.

Growth Limiter

Ada istilah yang bernama Growth Limiter, yaitu sesuatu yang menghambat sebuah bisnis untuk bertumbuh. Mungkin Anda juga mengalami hal ini, karena saya lihat ada banyak orang yang mengalaminya, begitu pun dengan kami di kirim.email dan bisnis-bisnis saya sebelumnya, bahkan guru saya pun juga mengalami hal serupa.

Nah, jadi saat bisnis baru mulai, biasanya yang menjadi penghambat nomor satu adalah sales yang menghasilkan uang cash.

Growth Limiter Bagi Startup

Namun, beberapa Startup saat ini tidak memperdulikan sales, omset, ataupun profit. Hal yang paling penting bagi mereka adalah pertumbuhan (growth) user.Sehingga untuk bisnis startup yang seperti ini sales bukanlah growth limiter.

Sales Sebagai Masalah Prosedural

Seperti yang sudah pernah saya sampaikan di episode-episode sebelumnya, bahwa sales adalah masalah prosedural. Jadi jika Anda sudah menemukan prosedurnya, maka sales Anda akan bertumbuh.

Prosedur sales di awal dan di pertengahan saat bisnis Anda bertumbuh itu berbeda. Artinya, sebuah prosedur sales yang berhasil di saat Anda memulai mungkin tidak akan berhasil ketika Anda bertumbuh, atau istilahnya adalah scale up

Pola Growth Limiter

Saat Anda scale up, bertumbuh, atau growth, kemudian sales Anda stabil, keuangan Anda bertambah terus menerus, omset dan profit Anda merangkak naik, maka Anda akan bertemu dengan yang namanya Growth Limiter di titik tertentu.

Begitulah pola yang saya perhatikan.

Limiter adalah pembatas, sehingga dibutuhkan skill atau pemikiran spesifik, atau orang tertentu yang mampu menganulir, mengantisipasi, dan melewati limiter ini.

Marshall Goldsmith terkenal dengan ungkapan kalimatnya,

“What Got You Here Won’t Get You There”

Apa yang bisa membawa Anda kesini, tidak bisa membawa Anda kesana.

Contohnya, apa yang bisa membawa Anda ke omset 10 juta, tidak bisa membawa Anda ke omset 100 juta, apa yang bisa membuat Anda ke omset 100 juta, tidak bisa membawa Anda ke omset 200 juta.

Jadi, setelah sales mencapai titik tertentu, ada 2 buah Growth Limiter yang dimana saat Anda tambah sales-nya pun, bisnis Anda tidak bertumbuh sebagaimana mestinya.  

Apa saja itu?

  1. Infrastruktur
  2. SDM

Kita akan membahas dua-duanya di episode kali ini.

Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan sesederhana dengan kita memiliki banyak uang.

Misalnya sales-nya bertumbuh dua kali lipat, lalu kita salurkan uang ke kedua aspek tersebut dan berharap masalahnya selesai, itu tidak akan bisa.

Jadi ada beberapa hal dalam bisnis yang tidak bisa selesai hanya dengan dibayar.

Growth Limiter: Infrastruktur

Infrastruktur termasuk di dalamnya kapasitas produksi Anda jika Anda sebagai produsen, kemampuan server Anda jika Anda bisnis digital seperti kirim.email, mesin jika Anda memiliki pabrik, dan lain-lain, itu selalu ada limiter di titik tertentu.

Contohnya, saya pernah berbincang bersama teman saya yang memiliki usaha katering dan memiliki klien yang sangat besar dalam memesan, bisa ribuan order per pesanan.

Suatu hari, tim sales-nya berhasil closing, dan seperti yang diketahui pesanan masuk bisa mencapai ribuan. Batasnya dari bisnis teman saya ini adalah infrastruktur, yaitu kemampuan dia memproduksi makanan atau kapasitas produksi.

Anggaplah bahwa batasan dia adalah 3 ribu porsi, dan pesanan itu terjadi di hari Sabtu. Lalu, di hari Kamis datang lagi pesanan dengan jumlah yang sama yaitu 3 ribu porsi. Kemudian teman saya merasa kebingungan, karena sudah berada di titik batasnya.

Karena bagaimana seseorang menambah infrastruktur hanya dalam waktu 2-3 hari?

Challenging sekali, sangat menantang.

Benar, memang bisa dialihkan ke katering lain yang memiliki kapasitas lebih besar. Namun tentu saja tidak bisa mengontrol kualitasnya, delivery-nya, bahkan mungkin belum cukup mengenal orangnya, dan lain-lain.

Jadi, meskipun ada sales yang berhasil closing dengan hasil dua kali lipat dari kemampuan produksinya, akhirnya teman saya tidak bisa menghandle orderan ini.

Amat disayangkan dan ini yang saya maksud dengan growth Limiter yang pertama yaitu infrastruktur.

Kami di kirim.email juga mengalami, kemarin sistem kami sempat down karena sudah di titik batasnya, dimana kalau kami menambah user baru, maka harus ditambah juga servernya.

Alhamdulillah, di bisnis digital seperti kirim.email ini, scale up server seperti ini tidak sesulit scale infrastruktur fisik. 

Infrastruktur juga termasuk pengadaan bahan baku. 

Contoh, mesin atau kompor Anda bisa bekerja dua kali lipat, namun ternyata bahan bakunya tidak sebanyak itu. Jadi, jika Anda ingin menambah jumlah bahan baku, namun ternyata kapasitas supplier Anda juga tidak menyanggupi. Nah, ini juga akan menghambat.

Banyak teman-teman saya di bisnis pakaian itu terhambat di garmennya, karena harus mengantri. Salah satu contohnya di bahan baku, terlebih untuk kain dengan motif atau pola tertentu dan dibutuhkan dalam jumlah besar, maka mereka akan mengantri, meskipun di kapasitas produksinya bisa, namun di bahan bakunya tidak bisa.

Itulah growth Limiter yang pertama yaitu infrastruktur.

Growth Limiter: SDM

Growth Limiter kedua yang saya, teman-teman, bahkan guru saya alami ada di SDM.

Limiter di SDM ini ada banyak, misalnya kurangnya skill, kurangnya jumlah orang, kurang cepat belajar dan adopsi skill baru, dan kurang cepat mengakuisisi orang-orang baru.

Jadi, ini growth Limiter yang lebih menantang daripada infrastruktur. Mungkin, scale up infrastruktur bisa dengan menambah uang, seperti di kirim.email ketika ingin scale up, maka tinggal menambah biaya server.

Namun, berbeda dengan SDM, apalagi SDM yang membutuhkan skill.

Contohnya, di kirim.email kita membutuhkan skill yang spesifik, seperti pemrograman. Alhamdulillah, kita banyak kedatangan programmer andal, namun sehebat apapun mereka, tetap harus beradaptasi dengan framework kirim.work. Karena, saat ini tim developer kita sudah punya pola kerja sendiri. Ada banyak hal yang berjalan bersamaan di kirim.email. 

Bisa jadi, saat kita menerima SDM baru, apapun posisinya baik itu developer, marketer, ataupun technical support, itu akan butuh jeda waktu yang cukup lama.

Terlebih, kirim.email selalu membutuhkan skill yang spesifik. Contohnya seorang copywriter.

Meskipun seseorang itu memiliki skill sebagai copywriter dan pernah bekerja sebelumnya di posisi yang sama, itu akan tetap membutuhkan penyesuaian dengan budaya kerja, cara berkomunikasi ke pasar, cara agar komunikasi kongruen antara iklan di Facebook, Google Ads, Iklan YouTube, dengan podcast ataupun email broadcast yang dilakukan oleh tim lain, dan ini butuh waktu.

Jadi, meskipun skill copywriting dan menulisnya bagus, belum tentu adaptasinya bisa cepat. 

Inilah yang saya bilang dengan speed acquisition, yaitu setelah dia diakuisisi, bagaimana speed adaptasinya.

Hal ini tidak bisa di-push ataupun dipaksa, karena berbahaya. Jika dipaksa untuk cepat beradaptasi, akhirnya kita akan kehilangan dan menyia-nyiakan talent.

Bisa jadi dia orang yang sangat berbakat, namun karena terlalu di-push di luar akal sehat, dia akan langsung keluar. Tentu saja itu sangat disayangkan.

Karena banyak orang dengan talenta yang bagus memerlukan waktu, sebab ketika masuk ke sebuah perusahaan yang sedang berjalan atau bahkan sedang bertumbuh dengan cepat, maka akan membutuhkan penyesuaian yang cukup menantang.

Jadi, harus sering didekati, dihubungi, dan ditanya tentang kondisinya, kendalanya, atau perubahan yang diinginkan. 

Sehingga diperlukan komunikasi dua arah untuk saling memberikan feedback satu sama lain.

Hal-hal seperti inilah yang sangat challenging. 

Selain itu, kemampuan masing-masing orang pun berbeda-beda. Ada orang yang mampu beradaptasi dengan cepat, ada pula yang berbakat namun sangat berhati-hati.

Jadi, Anda harus tahu SDM tersebut termasuk orang yang seperti apa. Jangan hanya karena SDM mengalami kesulitan dalam beradaptasi, lalu menyimpulkan bahwa dia tidak berbakat. Karena saya tidak percaya hal itu.

Ketika seseorang sulit beradaptasi, maka saya lebih memilih untuk introspeksi diri. Dimana letak kesalahan saya saat mengkomunikasikan sesuatu yang baru ini ke orang tersebut, dan bagaimana ini bisa mulus transisinya, yaitu dari pekerjaan yang lama.

Karena, orang yang baru masuk dan pindahan dari perusahaan lain, umumnya akan membawa sisa culture atau budaya kerja dari perusahaan lama ke perusahaan kita yang mungkin beberapa budaya kerja di perusahaan lama tidak cocok dengan budaya kita.

Misalnya, kita sedang membutuhkan seorang spesialis, namun ternyata di pekerjaan sebelumnya dia adalah seorang generalis yang mengerjakan banyak hal sekaligus. Namun, dia tertarik dengan kesempatan sebagai spesialis disini, namun budaya generalisnya masih terbawa.

Itulah dua Growth Limiter yaitu Infrastruktur dan SDM yang tidak bisa di-scale up secara terburu-buru.

Bisa dengan cepat, namun jika terlalu terburu-buru dan di luar polanya maka ini akan sangat berbahaya, terutama di SDM.

Jadi, untuk Anda yang sedang bertumbuh dan bertemu dengan dua Growth Limiter ini, selamat berjuang karena saya juga sedang mengalami. Jika Anda ingin berbagi tips dengan saya bagaimana cara menghadapinya, silahkan kirim email ke saya di [email protected].

Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *