Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Pebisnis Masa Perang Pebisnis Masa Tenang

8 min read

Bismillahirrahmanirrahim  

Selamat datang di kirim.email, bersama saya Fikry Fatullah.

Pada episode kali, ini kita akan membahas tentang nasihat bisnis. Karena pada dasarnya, uraian di berbagai episode dari kirim.email, berisi tentang nasihat-nasihat khususnya buat diri saya sendiri yang saya terima dari orang lain.

Saya banyak mengulang nasihat yang saya dengar dan baca dari orang lain, yang beberapa sudah saya tes dan saya teruskan di episode-episode kirim.email, yang siapa tahu bisa bermanfaat seperti halnya nasihat itu bermanfaat untuk saya.

Konteks Suatu Nasihat

Nah, untuk nasihat bisnis ini ada temuan menarik yang tidak hanya saya saja yang merasakan. Jadi, hampir semua kegagalan yang saya ingat di berbagai bidang dalam bisnis saya itu berasal dari nasihat yang tepat di waktu yang salah.

Jadi, inilah pentingnya konteks saat kita menerima sebuah nasihat dari orang lain.

Misalnya, ada seseorang yang bisnisnya sudah stabil, besar, di level enterprise, dan memiliki omset 4-5 miliar sebulan. Kemudian, orang ini memberikan Anda sebuah nasihat, yang dimana konteksnya mengenai bisnis yang baru mulai. Omset Anda sekitar 100-500 juta sebulan, dan berhadapan dengan orang dengan omset miliaran perbulannya.  

Nah, saat dia memberikan nasihat, kemungkinan besar nasihat yang diberikan akan sangat bagus dan masuk akal. Setidaknya bagi saya, ketika diberikan nasihat oleh orang yang skala bisnisnya 10 sampai 20 kali lebih besar dari bisnis saya, saya akan merasa bahwa nasihat tersebut sangat mind blowing, luar biasa, dan tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. 

Tetapi, begitu nasihat tersebut saya praktikkan ke dalam bisnis saya, hasilnya kurang begitu sesuai. Bahkan, sudah sampai di spektrum atau di titik yang bisa menghancurkan.   

Contohnya saat saya berbisnis kuliner dahulu, dimulai dari toko sederhana di pinggir jalan ketika saya masih tinggal di Medan.

Lalu, saat itu saya mendapatkan nasihat dari pebisnis kuliner yang sudah memiliki cabang di 40 kota. Dia memberikan nasihat yang sangat bagus dan masuk akal. 

Mulai dari bagaimana cara merekrut, membuat karyawan agar tetap loyal, hingga memilih karyawan yang cocok untuk di dapur. Namun, di posisi saya saat itu tidak mampu untuk melakukannya. Kenapa?

Karena kondisi keuangan belum stabil, dimana saya baru mulai untuk berbisnis, baru saa membayar gerobaknya, baru membeli kompor khusus memasak menu bisnis tersebut, membeli bahan baku, memperbaiki gerobak yang saat itu sempat patah dan harus diganti, dan masalah lainnya. Intinya, uang cash saya kurang saat itu untuk merekrut karyawan.

Saya berpikir, bahwa di bulan pertama saya harus sudah bersiap, setidaknya sudah ada uang gaji. Jadi, meskipun hasil jualan minus, namun tetap tersedia uang untuk membayar gaji.

Sedangkan jika untuk merekrut karyawan baru, sesuai dengan nasihat yang diberikan, maka uang saya akan habis. 

Namun, apa yang terjadi?

Saya tetap merekrut karena mengikuti nasihat tersebut. 

Saya dinasihati untuk berani dan yakin, sehingga akhirnya saya pun merekrut karyawan tambahan untuk memasak dan lain sebagainya. Memang benar, service-nya semakin cepat, namun kejadian yang saya khawatirkan akhirnya terjadi.

Saat itu, saya belum tahu cara promosi yang baik untuk bisnis tersebut, hingga akhirnya Alhamdulillah beberapa bulan kemudian bisnis saya pun bangkrut.

Kasus ini seringkali berulang, dimana nasihat-nasihat yang saya terima sangat bagus dan benar, tetapi lagi dan lagi yang memberikan nasihat tersebut memiliki skala bisnis yang 20 sampai 30 lebih besar dari bisnis saya kala itu. 

Apakah berarti kita tidak boleh menerima nasihat dari orang seperti ini? Tentu bukan seperti itu maksud dari episode kali ini.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, nasihatnya tepat dan bagus, bahkan sampai sekarang nasihatnya pun masih saya terapkan, meskipun bisnis saya sekarang bukan kuliner lagi. Tetapi, timing-nya atau waktunya salah. 

Saya bisa menjalankan nasihat tersebut kalau saya sudah memiliki pengalaman atau gambaran dan kepastian dengan usaha saya saat itu. Karena pada waktu itu, usaha saya naik turunnya sangat ekstrem. Jadi misalnya hari ini omsetnya Alhamdulillah, besoknya bisa minus. Kalau saat itu saya bersabar satu hingga dua bulan lalu saya terapkan nasihat tersebut, mungkin hasilnya akan berbeda. 

Setelah saya melihat polanya, banyak sekali nasihat yang benar namun timing-nya salah sehingga menyebabkan kegagalan yang masif, ada yang langsung bangkrut, ada pula yang sales-nya turun, dan lain sebagainya.

Jadi, saat nasihat yang sama saya terapkan di waktu yang berbeda dan beberapa kali di bisnis yang berbeda, Alhamdulillah itu berhasil jalan. Mulai dari bisnisnya bertumbuh, sales-nya bagus, dan hasil positif lainnya.

Maka, kita harus melihat konteks. Saat ada yang memberi nasihat, maka lihat dia ini siapa dan sedang berada di posisi yang seperti apa

“Kutukan Pengetahuan”

Kalau Anda melihat episode yang lalu, saya pernah membahas tentang “Kutukan Pengetahuan”, seseorang yang sudah tahu akan lupa saat dulu dia tidak tahu.

Anda sekarang sudah tahu, satu ditambah satu sama dengan dua. Atau di matematika lain Anda tahu tentang trigonometri, atau phytagoras dan lain-lain. Sekarang Anda bisa membayangkan, anak Anda ketika kelas satu atau dua SD, lalu Anda mengajarkan tentang phytagoras, maka Anda akan kesulitan menempatkan diri Anda di posisi anak Anda. 

Begitu juga kepada orang-orang dewasa yang tidak sempat menuntaskan pendidikannya di sekolah dasar. Saya ada kenalan pebisnis tempat langganan saya membeli sarapan, dan dia sangat smart atau cerdas terutama di bisnis karena jualannya selalu ramai, meskipun sekolahnya tidak lulus, dan dia tidak begitu paham mengenai matematika termasuk phytagoras.

Nah, saya menantang diri saya untuk mengobrol banyak hal dengannya yang tidak dia pahami, agar akhirnya dia mengerti. 

Jika Anda menjelaskan mengenai teori phytagoras kepada orang yang tidak memiliki basic matematika yang kuat, maka akan sulit sekali bagi Anda untuk menjelaskan konsep phytagoras.

Jadi, menjelaskan sesuatu yang sudah kita pahami, kepada orang yang belum ada gambaran itu menantang sekali.

Kita pun sudah lupa, dulu saat kita tidak tahu itu bagaimana sebenarnya

Contoh “QUIT FACEBOOK”

Kalau berdasarkan dunia psikologi atau NLP (Neuro linguistic programming), ada istilah yang dinamakan State of Mind atau kondisi berpikir.

Nah, saat pebisnis yang memiliki skala bisnis 20-30 kali bisnis kita memberikan nasihat, itu bukan berarti dia ingin menghancurkan kita. 

Saya yakin, nasihatnya benar. Tapi, benarnya kapan? Mungkin tidak sekarang.

Salah seorang pebisnis bernama Jason Fried dan David Heinemeier Hansson, founder Basecamp, mereka mempelopori gerakan “Quit Facebook” yaitu mengajak para pebisnis untuk berhenti menggunakan Facebook karena praktik bisnis Facebook yang luar biasa buruk menurut mereka. 

Saat saya membaca artikel tersebut, saya yakin tulisan mereka mengenai Quit Facebook akan sangat masuk akal juga bagi Anda.

Tetapi, kapan kita bisa menerapkan itu? Apakah sekarang? 

Misalnya, kita punya banyak pelanggan dari Facebook, lalu kita cut dan Quit Facebook sekarang beserta entitas-nya termasuk Instagram dan WhatsApp. Lalu, apakah bisnis kita akan berjalan dan bertumbuh?

Jadi, kita lihat bagaimana kondisi Jason Fried dan David Heinemeier Hansson serta Basecamp saat memberikan nasihat ini.

Nasihatnya benar, bahwa Facebook bukanlah perusahaan yang baik. Saya ingat benar dulu saya memiliki guru seorang internet marketer senior di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa Facebook adalah produk gagal yang sukses.

Saya merasa bahwa saat ini, kirim.email belum berada di titik untuk berhenti menggunakan Facebook. Namun, apakah kita akan Quit Facebook? Mungkin saja. Kapan? Saya tidak tahu.

Karena kalau saya terapkan saat ini ke bisnis saya, dampaknya akan buruk dan masif, serta hasilnya pasti saya tidak akan suka.

Jadi, bukan nasihatnya yang salah, tetapi waktu atau timing-nya yang salah.

Peacetime VS Wartime CEO, yaitu CEO Masa Tenang VS Masa Perang.

Saya ingat di salah satu bab buku The Hard Thing About Hard Things, yang ditulis oleh Ben horowitz, yaitu Peacetime VS Wartime CEO, atau CEO Masa Tenang VS Masa Perang.

Jadi, CEO Masa Tenang itu basisnya sudah tenang dan stabil termasuk omset dan growth-nya. Berpikirnya orang seperti ini akan berbeda dengan orang yang baru memulai.

Bahkan tidak hanya cara berpikirnya, kondisinya pun berbeda, sehingga bisnisnya akan menuntut hal yang berbeda

Saat CEO atau pebisnis di masa tenang memberikan nasihat ke pebisnis di masa perang, akan sangat berbahaya

Contohnya Quit Facebook oleh Jason Fried dan David Heinemeier Hansson. Nasihatnya benar, namun jangan lupa bahwa mereka merupakan pebisnis masa tenang, dimana user-nya ada 2 juta lebih.

Kalau saya terapkan nasihat itu ke kirim.email yang user-nya 14 ribuan, tentu saja belum tentu baik hasilnya. Jadi, apakah saya menerima nasihat mereka? Belum, karena mereka sedang di masa tenang sedangkan saya di masa perang.

Tetapi sebaliknya, mungkin di mata orang lain, saya sudah tenang. Alhamdulillah, di beberapa hal, kirim.email sudah di-handle oleh orang-orang yang luar biasa kompeten. Contohnya divisi marketing. Apakah saya tenang? Iya, saya tenang meninggalkan divisi marketing ke tangan orang-orang yang andal.

Namun, ada sisi lain yang saya belum tenang dan masih perang, yaitu sisi rekruitmen, business development, pengembangan produk baru, dan masih banyak lainnya.

Jadi, misalnya ada orang yang sedang berperang di sisi marketing, sedangkan saya sudah di masa tenang, lalu saya memberikan nasihat untuk merekrut orang yang ahli Facebook ads. Apakah nasihat saya benar? Iya benar. Namun, misalnya saat dia berhasil merekrut orang namun ternyata orang ini tidak ahli bahkan kabur, maka bisnisnya akan hancur. 

Jadi, hati-hatilah saat menerima nasihat dan lihatlah konteksnya, siapakah yang memberikan nasihatnya dan bagaimana kondisi bisnisnya.

Menanyakan Nasihat Bisnis yang Tepat 

Pertanyaan yang lebih tepat untuk saya seperti ini,

Jika sekarang orang ini mengalami apa yang saya rasakan, maka apa yang akan dia lakukan?

Misalnya orang ini sudah 20 kali skala bisnisnya lebih besar dari saya, maka saya ingin membuat dia mundur ke masa dia belum sebesar sekarang, tetapi berada di kondisi seperti saya. Misalnya, dia berada di kondisi dengan omset 10 miliar, dan saya setengahnya. Saya akan bertanya,

“Dulu waktu bapak mengalami hal ini, apa yang akan bapak lakukan?” 

Atau, Anda juga bisa coba bertanya seperti ini,

“Saat ini saya punya anggaran sekian dan jumlah karyawan sekian, saya ingin bisa meningkatkan omset saya dua kali lipat, jika bapak/ibu ada di posisi saya, apa yang akan Anda lakukan?”

Dengan menanyakan hal seperti ini, maka jawabannya akan lebih kontekstual. Meskipun tidak 100% akurat, karena dia sudah terkena “Kutukan Pengetahuan” juga. 

Jadi, hati-hatilah saat bertanya, karena bagi saya lebih penting kita muncul dengan pertanyaan yang tepat daripada jawaban yang tepat.

Terlebih jika betemu dengan orang yang sudah kita anggap sebagai guru. Saya akan berhati-hati sekali, untuk bertanya tentang hal yang tidak akan menghabiskan waktu orang tersebut.

Contohnya, saat saya bertanya ke guru saya, Mas Jaya. Saat itu, saya sudah menyusun pertanyaan agar jawaban yang saya dapatkan berkualitas. Paling tidak, akan membuat saya muncul dengan pertanyaan yang lebih berkualitas lagi. Karena seringkali jawaban beliau akan memunculkan pertanyaan lain. 

Jadi, kembali lagi bahwa Anda harus berhati-hati dengan pebisnis di masa tenang, sedangkan Anda sedang di masa perang.

Contoh lainnya, ada seorang pebisnis yang memberi nasihat,

“Ini produknya di-cut saja, tidak perlu dijual lagi. Produk ini merusak branding, karena branding kamu sudah bagus.”

Ini adalah nasihat yang saya dengar langsung dari seorang pebisnis fesyen yang sedang memberikan nasihat ke pebisnis fesyen yang lebih kecil skala bisnisnya.

Lalu, pebisnis kecil ini merasa bingung, karena masih ada stok 100 lagi di gudang. 

Dari yang saya lihat, si pebisnis kecil ini masih butuh cash dibanding brand. Jika branding tidak jalan maka tidak mengapa, namun jika cashflow tidak berjalan baik, maka akan sangat berbahaya. 

Jadi, apakah ini nasihat yang benar? Iya ini nasihat yang benar. Jika produk itu tidak beresonansi dengan DNA brand kita, maka jangka panjangnya akan berdampak buruk. 

Akan tetapi, jika produk ini tidak dijual, maka kasarnya dia tidak makan. Maka, manakah yang kita utamakan?

Perbedaan Pebisnis Masa Tenang dan Masa Perang

  • Cara Pandang

Bisnis di masa tenang akan melihat big picture atau gambaran besar seperti branding dan bagaimana market bergerak. Sedangkan bisnis di masa perang belum sampai ke tahap tersebut.

  • Pola Rekrutmen

Selain itu, bisnis di masa tenang juga membangun mesin rektrutmen berkapasitas tinggi, sampai biasanya mereka membayar pihak ketiga, head hunter, dan lain sebagainya untuk merekrut dan menambah orang baru demi mengejar volume sales dan lain-lain.

  • Culture dan Peluang

Lebih dari itu, bisnis di masa tenang juga akan berbicara tentang culture perusahaan dan peluang keuntungan besar, atau daam istilah lain dinamakan leverage. Sedangkan pebisnis masa perang belum memikirkan tentang culture, dan biasanya paranoid. 

  • Mindset Tentang Kompetitor

Pebisnis di masa tenang juga menganggap kompetitor itu, seperti kapal-kapal besar di lautan yang jarang bertemu. Berbeda halnya dengan pebisnis di masa perang itu melihat kompetitor seperti bajak laut yang siap menyusup ke kapal kita, dan menghancurkan bisnis dari dalam. Jadi, beda mindset.

  • Kemampuan Berbicara

Kemudian, pebisnis masa tenang memiliki kemampuan berbicara yang tenang dan stabil, istilahnya “speak softly and carry a big stick” yaitu bicara tenang tetapi tegas. Sedagkan pebisnis masa perang biasanya pembawaannya saat bicara memiliki tone yang tinggi, saat menulis pun kata-katanya tajam dan direct.

Ada banyak ciri-ciri lain dan perbedaan keduanya. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa membacanya di buku “The Hard Thing About Hard Thing”.

Buku Bisnis

Namun, yang jadi masalah lainnya adalah sebagian besar buku bisnis ditulis oleh pebisnis masa tenang atau orang yang sedang menganalisis bisnis di masa tenang. Karena penulis bisnis tidak harus seorang pebisnis. 

Misalnya seorang jurnalis yang sedang mempelajari tentang bisnis itu biasanya yang dia pelajari adalah bisnis yang berada di masa tenang. Itu adalah hal yang saya pelajari dari berbagai buku, salah satunya bejudul Business Model Generation, penulisnya adalah Alexander Osterwalder.

Bisnis yang dibedah di dalam buku tersebut adalah Disney, Apple, yang merupakan perusahaan raksasa.

Jadi, bagaimana nasihat-nasihat di buku tersebut bisa diterapkan oleh pebisnis di masa perang? Mungkin beberapa tidak akan cocok. Maka, perlu berhati-hati.

Kembali lagi, sebagian besar kegagalan yang saya alami adalah akibat saya menerapkan nasihat yang bagus namun di waktu yang kurang tepat. Saya sedang berperang, namun saya mengambil nasihat yang sudah tenang. Sehingga terjadi kekacauan.

Ini terjadi di banyak hal dan menimpa banyak orang, termasuk guru saya sendiri pun mengalami. Beliau pernah membaca bukunya Pak Hermawan Kertajaya, tentang branding dan marketing.

“Ini kalau kita sudah jualan ikan bakar, jangan jualan pempek, karena akan merusak branding.”

Padahal, demand-nya pempek ada di daerah tersebut. Tetapi, karena terlalu memikirkan branding, maka bisnisnya akhirnya tutup.

Lagi dan lagi, nasihat yang tepat karena Pak Hermawan adalah orang yang luar biasa di dunia marketing, tetapi mungkin tidak semua nasihat beliau cocok timing-nya dengan bisnis kita.

Oleh karena itu, saya sering kali membaca buku yang sama di waktu yang berbeda, karena hasilnya akan berbeda.

Saya memiliki buku yang saya baca setiap tahun, salah satunya adalah buku Rework – Jason Fried & David Heinemeier Hansson dan Business Model Generation- Alexander Osterwalder.

Dalam lima sampai enam tahun ini, saya selalu membaca buku mereka. Saya sudah membacanya berulang kali setiap tahunnya. Kenapa?

Karena kondisi saya sekarang dengan kondisi saya saat dulu pertama kali membaca buku tersebut berbeda. Jadi, hasilnya akan berbeda InsyaAllah.

Kesimpulan

Demikianlah dari saya di episode kali ini, bijaklah dalam menerima nasihat, simpan dan catat nasihatnya.

Karena, akan ada waktunya kita menerapkan nasihat tersebut, termasuk nasihat yang Anda dengar dari saya, karena kondisi kita berbeda. Jadi, saya mohon gunakanlah dengan bijak.

Sampai jumpa di episode selanjutnya, saya Fikry Fatullah, terima kasih.

Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *