Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Memulai Kerja Remote Tanpa Meeting

3 min read

Bismillahirrahmanirrahim 

Selamat datang di kirim.email, bersama saya Fikry Fatullah.

Ada kabar tidak baik dan saya juga sekalian mendoakan supaya kita mudah-mudahan dijaga oleh Allah, karena sedang ada wabah virus corona. Namun, ini bukan berarti saya ingin membahas soal kesehatan. Akan tetapi kita fokus dengan banyaknya perusahaan yang mulai mempekerjakan timnya dari rumah alias kerja remote. Ada juga himbauan dari beberapa gubernur untuk bisa bekerja dari rumah saja. 

Beberapa waktu lalu, sahabat saya Mas Wisnu dari Javan itu bertanya kepada saya, mengenai episode setahun yang lalu dengan tema “evaluasi satu tahun di kirim.email tanpa meeting” yang kini sudah tidak ada.  

Perlu diketahui juga sebelumnya, bahwa kami di kirim.email, sistem kerjanya full remote, sehingga tidak ada meeting internal, yaitu yang dilakukan oleh saya bersama tim. 

Hal ini saya putuskan sejak 2016 untuk off meeting sama sekali, saya ingin eksperimen dan setelah 2017, saya melakukan evaluasi, lalu hasilnya saya sampaikan dalam satu episode tanpa meeting tersebut. Itu artinya, dari 2016 sampai 2020, kami sudah 4 tahun tidak melakukan meeting

Jadi, saya ingin melihat kembali bagaimana evaluasi dari setahun yang lalu hingga tahun ini dan ingin mempublikasi ulang disertai evaluasi ulang saat ini, 

Apa yang kami lakukan dan masih dilakukan? Lalu apa yang berubah?

Inilah hasil evaluasi dari tahun 2017, dan selamat membaca.

Saya ingin share, kenapa saya menghindari meeting? Karena dari sebelum saya membangun kirim.email, yang paling mengganggu menurut saya adalah meeting

Saya menghindari meeting dikarenakan ada beberapa alasan. Secara spesifik, ada 6, yaitu:

1. Pertama, meeting adalah racun bagi saya. 

Kenapa racun? 

Jadi, jika meeting 1 jam dengan 10 orang, artinya ketika ditotal ada 10 jam kerja, dan itu kita renggut dalam meeting tersebut.

Bayangkan, apa yang bisa dihasilkan dalam 10 jam kerja tersebut?

Misalnya pun ada 6 orang di tim saya semuanya berkumpul, maka berarti ada 6 jam kerja yang direnggut pada hari itu, hanya untuk bertemu dan membicarakan berbagai hal yang belum tentu efektif.

Jika ada agenda, maka kita harus tetap mendedikasikan waktu selama meeting, dan kecil sekali kemungkinannya Anda bisa bekerja yang benar secara optimal.

Contohnya, Anda seorang desainer yang diajak meeting. Lalu, membahas marketing yang tidak ‘nyambung’ dengan profesi Anda. Namun, Anda tentu saja tidak bisa mendesain di saat Anda meeting di topik pembahasan itu. Inilah yang saya artikan sebagai racun bagi saya dan membunuh produktivitas perusahaan. 

2. Kedua, meeting yang ideal dan baik adalah meeting yang tidak pernah terjadi.

Karena poin pertama tadi, meeting itu racun, jadi meeting terbaik buat saya adalah meeting tidak pernah terjadi, terutama meeting internal. Saya tidak bilang meeting ke client, disini yang dimaksud adalah meeting perusahaan. 

Dari setahun ini juga berdasarkan pengalaman saya, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar orang yang ikut meeting sebenarnya ingin ketemuannya, bukan ingin mengerjakan sesuatu hingga selesai. Tidak enak kalau tidak melihat muka.

Jadi, buat saya itu lebih kepada nafsu, bukan ke fungsinya.

Bagi saya, pekerjaan tidak akan tuntas dalam meeting. Pekerjaan tuntas jika dikerjakan bukan di-meeting-kan. 

3. Alasan selanjutnya, orang yang ikut meeting seringkali memegang gadget. 

Baik itu laptop, tablet, hp, yang semuanya connect ke internet dan ke pekerjaan mereka juga. Bahkan ke orang-orang yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Jadi, kalo mereka pegang gadget, badannya di situ, namun pikirannya kemana-mana, apa yang dilakukan badannya? 

Kita tidak menghargai orang yang datang dan lebih memilih memegang hp dan mengurus hal yang entah dimana, padahal ada orang di depan kita.

Kita sudah memiliki gadget yang connect ke internet, lalu kenapa meeting-nya tidak via itu saja? Kenapa harus datang, padahal saat datang pun kita memegang gadget juga.

3. Poin berikutnya, meeting adalah tempat bertemunya orang-orang yang bukan mahram.

Perempuan dan laki-laki bercampur semuanya meeting yang membuat saya sangat tidak nyaman. 

4. Poin kelima, dalam meeting biasanya hanya satu orang yang serius mencatat. 

Otak saya ini sulit mengingat poin-poin penting dalam meeting, sehingga saya harus mencatat. Saya yakin otak saya lebih didesain untuk menghasilkan ide, bukan mengingat ide.

Jadi, saya selalu mengingat dengan media lain, entah itu dicatat, direkam suara atau video, tapi medianya bukan otak saya secara manual.

Selain itu, seberapa yakin kita mengingat itu dalam 2-3 hari setelah meeting? Saya yakin tidak akan 100%.  

Maka, selalu ada satu orang yang mencatat dan peserta meeting yang lain akan melihat catatan satu orang ini. Artinya, yang lain ini ketika ditanya hasil meeting kemarin itu apa, maka semua akan men-draw, me-recall, atau mengambil semua dari ingatan, yang dimana ingatan setiap orang berbeda-beda. Sehingga, ada satu orang yang disebut sebagai notulen meeting. Semua orang jadi bergantung kepada si notulen ini dan ingatannya masing-masing.

Kalau komposisinya seperti itu, saya yakin meeting tersebut tidak akan terdokumentasi dengan baik. Pasti karena si notulen juga tidak mungkin mencatat semuanya. Si pencatat juga akan mencatat dan mengingat apa yang penting bagi dia. 

5. Poin terakhir adalah meeting adalah produk 40-an. 

Pertama kali didokumentasikan dan disebut sebagai meeting itu terjadi pada 10 Januari 1946 di Amerika. Meeting merupakan produk tahun 46, dan sekarang kita hidup di abad 21, dan yang masih meeting?  Buat saya, something very wrong dengan budaya tersebut.  

Itulah, hasil evaluasi dari tahun 2017. Apakah ada yang saya ubah dari poin-poin tersebut? Tidak ada, namun ada yang saya tambahkan. 

Saya ingin menambahkan poin yaitu penghematan ‘biaya macet’. Jadi tidak ada waktu dan biaya yang habis, terutama waktu. 

Beberapa kali pernah ada kejadian banjir, tanah longsor, yang dimana tidak memungkinkan saya untuk pergi kemana-mana. Ini sangat membantu jika kita sudah memiliki manajemen komunikasi yang baik untuk kerja remote, Alhamdulillah.

Jadi, akankah saya terus melakukan ini? Iya saya akan lakukan. Walaupun kita ketemuan di kirim.email, saya menghindari membahas pekerjaan, lebih mengarah ke perkenalan. Karena beberapa orang di kirim.email  sama sekali belum pernah bertemu, maka saling berkenalan, mengobrol, dan lainnya. 

Kendala terbesar dari kerja remote ada 2.

  1. Pertama, meeting internal.
  2. Kedua, adalah produksi, kalau dalam bentuk fisik.

Tetapi saya masih bertahan dengan opini saya sejak 5 tahun yang lalu, bahwa tidak semua orang perlu datang. Memang benar tidak semua perusahaan cocok dengan sistem kerja remote, tapi juga tidak semua orang harus datang ke kantor. 

Misalnya divisi accounting dan marketing, mereka bisa bekerja dari mana saja. Begitu juga desainer dan programmer. Namun, kalau produksi memang harus datang, terlebih dalam bentuk fisik.

Di Indonesia, kerja remote sudah lebih diterima daripada dulu waktu kami memulai di tahun 2016. Jadi, jika Anda ingin memulai, silahkan memulai. 

Hal pertama yang perlu disingkirkan saat kerja remote adalah group WhatsApp karena ini sangat mengganggu dan rawan miskomunikasi. Lalu, pelajari bagaimana cara berkomunikasi tidak sinkron atau asynchronous communication.  

Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *