Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Membangun Startup Walaupun Tidak Bisa Coding

3 min read

Bismillahirrahmanirrahim  

Selamat datang di kirim.email, bersama saya Fikry Fatullah.

Mungkin banyak yang bertanya ke saya karena tahu latar belakang saya yang non-coder

Bagaimana membangun perusahaan digital atau digital startup kalau kita tidak paham coding atau tidak bisa pemrograman? 

Sekarang startup digital lagi trend banget.

Apakah saya menguasai basic coding, html basic, PHP basic, dan Swift basic? Jawabannya, iya. Semuanya basic, karena saya penasaran dan ingin tahu cara kerjanya bagaimana. Terkadang saya juga iseng membaca dokumen atau main-main ke forum developer.

Jadi, bagaimana membangun perusahaan digital kalau kita tidak punya basic coding?

Ada 5 cara yang saya sarankan dan lakukan.

1. Pertama adalah jelas belajar coding.

Saya bilangnya, ini adalah jalan ninja kalau Anda ingin jangka panjang dan serius, maka belajarlah coding. Tidak ada kata terlambat dan bagi saya walaupun saya belajarnya masih basic, namun ada satu persamaan yang saya pelajari.

Coding akan membantu kita berpikir lebih baik. Karena pada dasarnya, belajar bahasa, apapun bahasanya, akan membuat kita berpikir dengan cara berbeda, termasuk bahasa pemrograman.  

Jadi, bagi saya belajar coding bukan hanya untuk menambah skill, tapi juga untuk merestrukturisasi ulang cara berpikir kita. Namun risikonya, ini jelas untuk jangka panjang. Saya belajar coding sekarang mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk akhirnya saya bisa menghasilkan aplikasi IOS, android, atau web based. 

2. Kedua, merekrut developer hardcore atau saya menyebutnya developer rockstar.

Jadi prinsipnya, memulai bisnis digital sama dengan memulai bisnis pada umumnya. Prinsip bisnis itu kita tidak perlu menjadi koki untuk membuka restoran. Itu prinsip nomor satu dalam memulai bisnis.

Walaupun Anda paham coding, yang saya pelajari dari teman-teman saya yang menjadi CEO, founders, sekaligus jadi “Pak Coding”, mereka itu bisa mengambil keputusan dengan lebih bagus. Karena bisa melihat cakupan yang lebih luas. Mereka yang bisa coding umumnya mampu mengambil decisions yang lebih baik dan memilih tools serta bahasa pemrograman yang lebih bagus.

Hal lain yang saya pelajari lagi yaitu orang yang paham coding, seperti programmer atau developer yang belajar bisnis, jauh lebih mudah daripada pebisnis yang belajar programing. Jika Anda sekarang bisa coding atau pemrograman, percaya sama saya, belajar bisnis jauh lebih mudah daripada Anda belajar pemrograman dulu.

Kembali lagi ke poin kedua, Anda meng-hire seorang developer, dan itulah yang saya lakukan juga. Jangan hire developer sembarangan, carilah yang bagus, hardcore

Bukan hanya bagus, namun Anda butuh lebih dari kata bagus. Apalagi saat baru membangun di awal. Anda punya ide, maka Anda cari hardcore developernya.

Bagi saya, ide itu ‘sampah’ dan tidak ada artinya, karena kuncinya ada di-eksekusi.

Tanpa hardcore developer, eksekusi Anda akan sangat menantang. Jadi, semakin gila idenya, semakin gila developernya. Hire yang membuat eksekusi itu terlihat mudah dan effortless.

Alhamdulillah, saya beberapa kali dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang seperti ini. Jadi tidak hanya satu kali dan saya sangat bersyukur. Saya tidak pernah menganggap ‘sepele’ hal itu. Saya tahu, ini tidak mudah. Tantangannya sangat besar, tapi jika Anda bertemu partner atau orang seperti ini, maka Anda perlu menjaganya. Karena itu rezeki dari Allah untuk Anda. 

Itulah cara kedua yaitu hiring. Tentu saja ada resikonya. Biasanya developer seperti ini gajinya di atas UMR. Tapi saya tidak melihat ini sebagai risiko, melainkan sebagai “sebuah paket lengkap” yang datang. Bahkan, saya pun terkadang curiga jika yang datang ke saya ketika ditanya mengenai gajinya itu terkesan lebih murah. Jadi, masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. 

3. Ketiga, gunakan solusi yang saya sebut “No Code”.

Poin ketiga, kalau kita tidak bisa hire, lalu bagaimana? Misalnya, kita tidak punya uang atau jaringan, tidak tahu ingin bertanya kemana atau buat lowongan dimana, dan kita juga tidak tahu karena baru mulai. Kalaupun bisa membuat lowongan, kita belum tentu bisa menggajinya, lalu bagaimana? Gunakan solusi yang saya sebut “No Code”.

No itu tidak, dan code itu kode atau coding. Jadi, sebuah solusi yang tidak perlu coding. Sekarang sangat tren di Amerika istilah ini. Banyak aplikasi dibangun dengan cara no code, tanpa aplikasi. 

Biasanya menggabungkan berbagai aplikasi yang sudah ada. Salah satu website pelopor no code adalah makerpad

Jadi, Makerpad ini adalah komunitas no code. Disini, ada tutorial bagaimana cara membangun apapun no code, bagaimana membuat Airbnb tanpa coding, bagaimana Anda membuat aplikasi lowongan pekerjaan tanpa coding, semua ada caranya. 

Salah satu pelopor juga dari no code adalah Zapier, salah satu aplikasi yang banyak sekali saya gunakan di awal, karena saya punya banyak ide tapi tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Akhirnya, saya menggunakan Zapier, saya gabungkan ke kirim.email dulu, dan berhasil jalan, Alhamdulillah.

Jadi, gunakan solusi no code yang pada dasarnya hanya menggabungkan beberapa aplikasi jadi satu. Zapier sendiri sudah terdaftar di dalamnya ada 1.500 lebih aplikasi termasuk kirim.email. Trennya sekarang seperti itu, setiap aplikasi bisa dihubung-hubungkan menggunakan API (Application Program Interface)

Zapier mengumpulkan semua API dan menggabungkannya menjadi satu. Tentu saja kekurangannya adalah Anda harus membayar setiap aplikasi. Namun, total keseluruhan kemungkinannya akan lebih murah daripada hire seorang rockstar developer. 

Kemungkinan besar, aplikasi-aplikasi gabungan yang sudah jadi ini dibangun oleh rockstar developer juga. Jadi, Anda seperti hiring mereka sebagai freelancer, dan Anda menggabungkan aplikasi yang mereka buat lalu menjadikannya satu aplikasi yang baru.

Solusi nomer empat adalah beli atau gunakan open source.

Nah, ini tricky. Jadi, dulu versi pertama kirim.email itu saya beli aplikasinya dari orang Pakistan. Sebenarnya dia tidak menjual aplikasi email marketing, dia jualnya layanan hosting. Lalu, saya sempat berbincang dan dia bilang,

“Saya punya email dan white label (tidak ada brandnya), kalau mau ini saya jual.”

Kemudian, saya putuskan untuk membeli dan mengubah sedikit dari logonya dan lain sebagainya, hingga akhirnya menjadi kirim.email yang kita kenal sekarang.

Kemudian Gamal bergabung dan kami mulai dan membuatnya lagi dari 0, lalu yang saya beli sebelumnya akhirnya tidak terpakai.

Jadi, gunakan open source. Tapi tentu saja seperti yang saya katakan tadi, ini berisiko karena pada dasarnya Anda menjalankan semuanya sendirian. Namun, kalau Anda butuh developer, maka balik ke poin kedua. 

Penawaran utama Anda tidak bergantung di inovasi berbasis kode.

Misalnya, dulu ada Groupon. Anda mungkin pernah dengar sebelumnya. Groupon awalnya menggunakan wordpress saja. Jadi, kalau setiap ada orang yang pesan kuponnya, itu akan di print jadi PDF dan dalam bentuk fisik yang dikirim ke orang tersebut. Semua prosesnya berjalan manual.

Ini salah satu cara atau solusi yang bisa Anda lakukan, yaitu penawarannya jangan mengandalkan atau menawarkan inovasi berbasis kode. Jadi, bisa coba misalnya jasa service tapi usahakan di website-nya ada aplikasi sederhana.

Contoh di Indonesia sendiri ada Fabelio, sebuah startup digital yang menjual furniture secara digital. Model bisnis mereka ini, value proposition utamanya ada di furniture, bukan di kodenya, dan Anda bisa meniru hal serupa.   

Demikian dari saya, terima kasih dan sampai jumpa di episode selanjutnya.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Fikry Fatullah Founder & CEO KIRIM.EMAIL. Seorang penulis buku bisnis, praktisi email marketing dan pelaku remote working Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *