Dr Indrawan Nugroho Innovation Consultant, Serial Entrepreneur, Content Creator.

9 Taktik Inovatif Bisnis Mengakali Krisis

6 min read

Pada bulan Oktober tahun 2020, Thai Airways menyatakan dirinya bangkrut dikarenakan pandemi yang tengah terjadi. Mereka langsung banting stir, pivot mengubah bisnisnya menjadi jualan roti goreng atau odading sebutannya di Thailand sana. Konon katanya, waralabanya jadi sukses besar.

Di Australia, maskapai penerbangan Qantas juga tidak mau kalah ternyata. Mereka membuat program khusus jalan-jalan naik pesawat atau sightseeing. Dimana Anda bisa terbang dari satu bandara di Australia naik pesawat dan balik ke bandara yang sama.

Di Singapura, Singapore Airlines juga tidak mau kalah tentu saja. Mereka mengubah pesawat mereka Boeing A380 yang sedang parkir di Bandara Changi sebagai pop-up restoran. Dimana Anda bisa memesan tempat dan menikmati makanan yang disediakan di sana. Harganya tidak murah, tapi dalam waktu 30 menit saja semuanya terbooking habis. 

Nah, itu adalah sebagian kecil dari taktik yang dilakukan teman-teman di industri penerbangan untuk mengakali krisis yang terjadi. 

Baca Juga: Penghambat Bisnis Yang Sedang Bertumbuh

Pertanyaannya, bagaimana dengan perusahaan Anda? Bagaimana Anda mengakali krisis yang terjadi di industri Anda? 

Nah, izinkan saya berbagi 9 taktik inovatif yang Anda bisa gunakan untuk mengakali krisis. Saya juga akan berikan contoh kongkritnya di Indonesia. 

Yuk langsung saja kita bahas sama-sama! 

9 Taktik Inovatif Bisnis Mengakali Krisis

Jadi apa nih 9 taktik inovatif yang bisnis bisa lakukan untuk mengakali krisis?

Ada 9 poin, dan terus terang yang paling favorit saya yang ke-9, karena menurut saya itu yang paling radikal. Jadi, pastikan Anda membaca ini sampai habis ya.

1. Ikuti Perubahan Perilaku Pelanggan

Kita mulai dari taktik yang pertama, yaitu ikuti perubahan perilaku dari pelanggan. 

Namanya pelanggan itu manusia dan ketika dalam krisis apalagi pandemi pasti preferensi kebutuhannya berubah. 

Contohnya, ketika masa pandemi orang akan cenderung tidak keluar dari rumah, membatasi diri sehingga apa yang terjadi di industri otomotif? Case khususnya ini adalah Astra Otoparts. 

Astra Otoparts menyadari bahwa pelanggan mereka yang biasanya pergi ke bengkel mereka untuk servis motornya, tidak lagi datang. Itu mengalami penurunan yang drastis. Mereka kemudian menyadari bahwa kebutuhan itu masih ada namun ada kendala dari customer nya. 

Inisiatif mereka adalah mereka bener-bener full invest di home service dimana teknisi mereka, montir mereka yang datang ke rumah-rumah pelanggannya untuk melakukan servis kendaraan bermotornya. Untuk ganti aki, ganti oli. dan lain sebagainya.  

Ternyata, keputusan itu pun berbuah manis bahkan di masa pandemi. 

2. Identifikasi Peluang Baru

Taktik yang kedua adalah kita perlu identifikasi peluang baru yang terbuka.

Dimana ada satu pintu tertutup, disitu ada pintu lain yang terbuka dan kita harus temukan pintu yang terbuka itu. 

Contohnya di industri otomotif, hanya saja kali ini adalah tentang jual beli otomotifnya.

Penjualan mobil baru di masa pandemi itu turun drastis. Wajar, kenapa? 

Karena orang tidak punya alasan untuk beli mobil baru. Mereka tidak kemana-mana, dan kalau pun mereka punya uang, mereka ingin menyimpan uang itu untuk jaga-jaga di tengah situasi yang tidak pasti. 

Namun, OLX Autos melakukan survei dan menemukan ternyata penjualan mobil bekas itu malah naik, khususnya pasca PSBB. Mereka pun genjot bisnis ini secara signifikan. 

Bahkan mereka membuat sebuah aplikasi digital untuk memudahkan calon pembeli untuk memilih mobilnya, kemudian mengecek mobilnya. Sampai transaksinya pun terjadi di aplikasi itu dan kebetulan mereka menemukan bahwa pemain lain itu tidak ada yang main di aspek digital ini. 

Kenapa? Karena mereka merasa terlalu ribet, kompleks, dan pembayarannya pun mundur terlalu lama. 

Nah, ini justru jadi peluang baru bagi OLX untuk bisa benar-benar bermain di area ini dan terbukti akhirnya berbuah manis juga untuk OLX, bahkan di masa pandemi. 

3. Sesuaikan Portfolio Produk

Taktik yang ketiga adalah kita perlu sesuaikan portfolio produk kita dengan kebutuhan pelanggan pada saat krisis. 

Contoh konkret adalah SHARP. 

SHARP itu memprediksi bahwa masyarakat Indonesia ditengah pandemi yang tidak mau keluar dari rumah, maka mereka pun belanjanya itu dibatasi. Mungkin sebulan hanya dua kali atau paling tidak seminggu sekali.

Maka, mereka harus punya tempat untuk menyimpan semua barang belanjaannya, sayur-sayuran, dan buah-buahan. 

Artinya, kayaknya penjualan dari kulkas akan naik deh karena kebutuhannya itu ada.

Ternyata benar begitu. Mereka memproduksi kulkas dalam jumlah banyak dan penjualannya pun ikut banyak. Termasuk produk mereka yang terkait dengan plasmacluster. 

Karena masyarakat di tengah pandemi itu ingin memastikan bahwa udaranya itu sehat, jadi jauh dari bakteri dari virus. 

Mereka invest di produk-produk plasmacluster itu dan kembali lagi berbuah manis juga. Bahkan, di pandemi mereka masih bisa mencetak keuntungan. 

4. Optimalkan Teknologi Digital

Nomor empat taktiknya adalah kita perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi digital. 

Kalau ini kayaknya obvious ya, apalagi di tengah pandemi. Dimana kita susah untuk bisa ketemu orang secara langsung. Nah, Allianz ini sudah jauhjauh hari mengembangkan teknologi digital-nya. Begitu masuk ke masa pandemi, orang akhirnya tetap masih bisa berinteraksi dengan Allianz. 

Bahkan mereka masih bisa mengajukan polis menggunakan aplikasi digital ini. Sebanyak 93% pengajuan polis terjadi terjadi di kanal digitalnya selama masa pandemi.  

Komunikasi ke nasabah, 90% juga melalui digital dan penerbitan polis itu 42% juga melalui jalur elektronik. Wajar kemudian kalau di kuartal kedua 2020 Allianz mencatatkan pencapaian positif dengan perolehan premi yang signifikan yaitu Rp 6,65 Triliun.

5. Eksperimentasi Channel Baru

Taktik yang ke lima adalah kita harus eksperimentasi dengan model penjualan yang tidak biasa. 

Contohnya, MAP (Mitra Adi Perkasa) adalah grup yang menaungi banyak brand-brand ritel baik internasional ataupun lokal di Indonesia. Mereka menyadari dengan mall yang ditutup membuat penjualan ritel mereka drop.

Maka, mereka fokus berjualan lewat kanal digital dan mereka invest di kanal digital itu. Mereka melihat pertumbuhan di kanal digital sangatlah bagus. Bahkan, setelah mall dibuka kembali pun, penjualan di kanal digital terus mengalami kenaikan. Tapi mereka sadar bahwa itu tidak cukup. Maka, mereka eksperimentasi lagi dengan cara-cara yang lain. 

Mereka akhirnya tidak hanya fokus di mall. Mereka mencari yang non tradisional di luar mall. Bahkan mereka eksperimentasi untuk punya drivethru retail, bahkan free standing stores, dan lain sebagainya. 

Intinya adalah kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh customer kita dan bagaimana mereka merasa nyaman untuk berinteraksi. Makanya, kita coba-coba saja berbagai metodologi sampai kita ketemu pola yang paling pas, yang itu bisa membuat nyaman customer kita dan bisnis kita masih tetap bisa hidup melalui jalur itu. 

6. Sesuaikan Paket Penawaran

Taktik keenam adalah kita perlu menyesuaikan paket harga kita dengan situasi dari pelanggan. 

Contohnya, Ini Marquee. 

Marquee ini adalah perusahaan yang menyediakan office space yang biasanya dia menyewakan per-meter. 

Nah, di masa pandemi atau krisis yang tidak pasti itu orang tidak mau ambil investasi jangka panjang. 

Jadi kalau misalnya, “aku udah sewa misalnya 1000 m, tapi ternyata harus mengurangi tenaga kerja itu akan merugikan banget.”

Akhirnya, mereka mengubah paket harganya bukan per meter, tapi per orang dan itu bisa fleksibel tiap bulan bisa diganti. Jadi, kalau saya punya 50 karyawan bulan ini, bulan depan berkurang jadi 20, ya sudah bayar 20 saja. Bulan depannya lagi naik 50, ya sudah bayar lagi 50.

Fleksibilitas itu yang memang menjawab permasalahan dari customer dan Marquee masih tetap bisa melakukan penjualan bahkan di masa pandemi. 

7. Modifikasi Produk/Layanan

Taktik ke tujuh adalah kita mungkin perlu memodifikasi produk atau layanan kita supaya kita bisa addressing concern dari pelanggan kita. 

Contohnya adalah, di industri hospitality, hotel khususnya, yang pada masa pandemi itu cukup terkena dampak. 

Akhirnya mereka punya kreatifitas. Mereka punya paket staycation. Mereka sadar bahwa banyak orang yang sudah mulai jenuh ada di rumah. Dia ingin cari suasana baru, tapi mereka tidak ingin terlalu mahal dan mereka masih ingin aman dari covid. Akhirnya mereka membuat staycation. 

Jadi, mereka menyewakan kamar untuk jangka waktu yang lama, namun jatuhnya lebih murah per malamnya. Mereka membatasi jumlah orang yang di di hotel itu. Jadi, lebih private hotelnya supaya orang nyaman menginap disana. 

Bahkan ada hotel yang menawarkan WFH (Work From Hotel). Mereka memberikan Wifi yang kencang dan fasilitas kerja yang bagus. Just in case, kamu bosan kerja di rumah, bisa coba kerja di hotel.

8. Ubah Cara Kerja Tim

Taktik ke delapan ini kita tidak punya pilihan sebenarnya, bukan hanya sekedar mengubah produk kita atau bisnis model kita, pendekatan kita ke customer, namun kita pun harus mengubah “Bagaimana tim kita bekerja, pola kerja mereka”. 

Ini saya berikan contoh bukan dari perusahaan multinasional ataupun swasta nasional yang saya kasih contoh langsung instansi pemerintah saja, Direktorat Jenderal Pajak. 

Mungkin, bisa dikatakan sangat tradisional. Tapi, mereka pun juga akhirnya selama krisis pandemi itu mereka secara signifikan melakukan perubahan terhadap pola kerja dari karyawannya, dari pegawainya.

Mostly, semuanya pindah ke dalam bentuk digital. Ada yang di rumah, ada yang di kantor. Kemudian, flow kerjanya juga diubah. Dokumen itu disetor di server yang semuanya bisa akses, security-nya tinggi. Tapi, di saat yang sama juga itu memungkinkan bahwa protokoler kesehatan tetap terjaga.

Intinya adalah Anda juga harus memastikan bahwa tim Anda bekerja dengan cara yang paling efektif di tengah situasi yang tak menentu dan digital itu menjadi tools yang harus Anda adopsi. 

9. Main di Pasar yang Hidup

Nah, ini taktik yang ke sembilan yang saya bilang paling menarik ini. Kenapa? Disini, saya sebutkan dulu taktiknya adalah kita harus main di pasar yang masih hidup. 

Kenapa ini penting? 

Karena banyak dari kita yang memang kita udah kayak mati kutu. Kenapa? Karena marketnya mati. Mereka memang tidak bisa beli produk kita lagi dan sudah berhenti marketnya. 

Contohnya adalah BGR, yaitu PT. Bhanda Ghara Reksa. Ini adalah perusahaan ekspedisi besar sekali yang biasa dia melayani B2B (Business to Business). Tapi ternyata bisnis yang menjadi kliennya dia itu tidak beroperasi lagi di masa krisis, di masa pandemi. 

Lalu, bagaimana jika market industrinya ini sudah mati? 

Akhirnya, dia cari market yang baru, yang masih hidup. 

Mereka menemukan government itu masih hidup. Proyek-proyek pemerintah dari Kementerian Koperasi UKM, BUMN itu masih hidup.

Mereka juga melihat bahwa UKM-UKM yang ada di kota besar itu juga masih menggeliat. “Kenapa kita layani mereka saja?” 

Bayangkan, BGR perusahaan besar yang B2B itu akhirnya pindah ke B2G dan juga kemudian dia melayani UKM, itu yang luar biasa. 

Mereka itu membantu petani-petani yang ada di daerah supaya bisa membawa hasil panennya ke UKM yang ada di Jakarta. 

Kenapa? 

Karena mereka menemukan petani itu kerepotan untuk menyalurkan dan mendistribusikan produknya ke Jakarta, yang dikarenakan ada batasan dimana jalur darat itu banyak tutup dimana-mana. 

Sebenarnya, kalau perusahaan logistik masih boleh lewat jalan tol.  Akhirnya, itu yang dilayani oleh BGR. Setidaknya, BGR masih bisa selamat, karena itu yang kita cari, paling tidak di masa krisis.  Selamat dulu saja, namun akan sangat bersyukur apabila nanti kita bisa ketemu peluang bisnis baru untuk kita bisa bertumbuh. 

Nah, itulah 9 taktik inovatif bisnis mengakali krisis. Saya berdoa semoga Anda bisa menemukan paling tidak satu dari sembilan ini yang bisa bekerja untuk bisnis Anda, di industri Anda. 

Mungkin, harus kombinasi beberapa diantaranya, sehingga Anda bukan hanya bisa survive di masa krisis tapi yang lebih baik lagi adalah bisa keluar dari krisis ini, dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. 

Semoga ulasan ini bermanfaat.

Dr Indrawan Nugroho Innovation Consultant, Serial Entrepreneur, Content Creator.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *